Mendaki gunung saat ini bukan lagi aktivitas “ekstrem” yang hanya dilakukan oleh segelintir individu. Dengan meningkatnya tren aktivitas luar ruangan, mendaki puncak gunung kini menjadi gaya hidup baru bagi generasi muda. Namun, sangat disayangkan, tidak semua pendaki menyadari bahwa mendaki bukan hanya tentang kekuatan fisik dan peralatan, melainkan juga mengenai etika dan tata cara mendaki (mountain manners) yang harus dihormati.
Mountain manners merujuk pada sikap dan perilaku etika yang baik saat berada di gunung, baik terhadap lingkungan, sesama pendaki, serta komunitas sekitar. Pelaksanaannya tidak hanya untuk keuntungan kita, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan alam agar tetap terjaga bagi generasi mendatang

Yuk, kita pelajari lebih dalam tentang etika dan aturan mendaki agar kamu bisa jadi pendaki keren yang bukan cuma kuat fisik, tapi juga beradab dan bijak!

1. Hormati Alam dan Jangan Merusak Lingkungan

Aturan utama dalam etika gunung adalah menyadari bahwa kita hanyalah pengunjung di lingkungan alam liar. Gunung bukan lokasi untuk membuang sampah, bukan tempat untuk mencorat-coret batu, terlebih lagi merusak tumbuhan.

Yang harus kamu lakukan:

  • Bawa turun kembali setiap sampah milikmu (tak peduli sekecil apapun).
  • Gunakan tempat sampah jika tersedia, tapi jangan bergantung pada petugas.
  • Hindari memetik bunga, daun, atau menggali tanaman.
  • Jangan membuat coretan nama di batu, pohon, ataupun papan jalur.

“Leave nothing but footprints, take nothing but pictures, kill nothing but time.”

2. Bawa Kembali Sampahmu (Prinsip Carry In Carry Out)

Ini mencakup etika mendaki yang paling fundamental, tetapi hingga saat ini masih banyak yang mengabaikannya. Gunung bukan tempat sampah, jadi penting untuk membawa kembali semua sampah seperti makanan ringan, botol air, tisu basah, dan bungkus mie instan.

Tips praktis:

  • Siapkan kantong sampah pribadi (dry bag atau plastik tebal).
  • Pisahkan sampah organik dan anorganik.
  • Hindari membawa makanan dengan kemasan berlebihan.

3. Etika Buang Air (Karena Semua Butuh)

Kebutuhan alamiah bukan alasan untuk merusak alam. Jika tidak ada toilet di jalur pendakian, lakukan ini:

  • Buat lubang kecil ±30 cm (cat hole) jauh dari sumber air minimal 50 meter.
  • Kubur kembali setelah selesai.
  • Jangan buang tissue basah sembarangan, bawa pulang kembali.

4. Hati-Hati Membuat Api Unggun

Membuat api unggun saat cemping, sumber foto calderaadventure.com

Api unggun memang memberikan kehangatan pada malam di gunung, namun bisa sangat berbahaya jika diabaikan. Banyak kebakaran hutan disebabkan oleh api unggun yang tidak benar-benar dipadamkan.

Etika membuat api:

  • Gunakan area khusus atau bekas api unggun lama.
  • Jangan tebang cabang hidup untuk kayu bakar.
  • Pastikan api sepenuhnya padam sebelum tidur.
  • Kalau sedang musim kering, lebih baik tidak membuat api unggun sama sekali.

5. Sopan terhadap Sesama Pendaki

Di pegunungan, tidak ada rasa malu atau tingkatan. Semua adalah pendaki yang tengah berusaha. Oleh karena itu, bersikap ramah dan saling membantu merupakan etika mendaki yang perlu dipertahankan.

Mountain manners antar pendaki:

  • Pendaki naik memiliki prioritas jalur daripada yang turun.
  • Ucapkan salam saat berpapasan.
  • Jangan mendaki terlalu mepet ke pendaki lain.
  • Jika ingin mendahului, bilang sopan, “Permisi kak, saya mau mendahului ya.”
  • Jangan ribut atau memutar musik keras.

6. Jaga Kebisingan, Hormati Suasana Gunung

Gunung merupakan lokasi di mana orang-orang mencari kedamaian. Membawa sound system dan memutar musik dengan keras tidak hanya mengganggu pendaki lainnya, tetapi juga mengganggu hewan liar.
  • Gunakan headset jika ingin mendengarkan musik.
  • Hindari berteriak-teriak atau membawa sound system.
  • Biarkan alam menjadi musik terbaikmu di gunung.

7. Menata Tempat Camp dengan Baik

Saat berkemah di pos atau area camp:

  • Pilih tempat datar dan tidak merusak tanaman.
  • Jangan mendirikan tenda di jalur pendakian.
  • Rapikan area sekitar sebelum dan sesudah camp.
  • Buang air jauh dari tenda dan sumber air.

8. Jangan Memberi Makan Satwa Liar

Meski terlihat lucu, memberi makanan pada monyet, lutung, atau serangga bisa mengubah perilaku alami mereka dan membuat ketergantungan.

  • Simpan makanan rapat-rapat agar tidak dicuri satwa.
  • Biarkan satwa mencari sumber alami mereka sendiri.
  • Ambil foto secukupnya tanpa mengganggu.

9. Foto Boleh, Tapi Jangan Berlebihan

Ambil dokumentasi secukupnya dan hindari menghalangi jalur pendakian hanya demi konten. Etika mendaki juga berlaku untuk pembuat konten.

  • Jangan ambil foto lawan jenis tanpa izin (termasuk candid).
  • Hindari gaya foto yang berbahaya demi viral.
  • Lebih baik sedikit foto, tapi banyak menikmati.

10. Hormati Warga Lokal dan Budaya Setempat

Setiap gunung punya cerita, mitos, dan budaya yang dipercaya warga sekitarnya. Sebagai tamu, tugas kita adalah menghargai.

  • Ikuti aturan adat.
  • Jangan berkata buruk atau meremehkan.
  • Pakai pakaian sopan saat melewati pemukiman.
  • Beli logistik atau sewa porter lokal sebagai bentuk apresiasi ekonomi.

11. Izin Mendaki Itu Wajib, Bukan Opsi

Jangan pernah mendaki secara ilegal. Selain membahayakan diri sendiri, kamu juga menyusahkan petugas jika terjadi musibah. Gunakan jalur resmi dan lengkapilah:

  • Surat keterangan sehat
  • Tiket pendakian
  • Identitas diri
  • Briefing keselamatan dari petugas

12. Patuhi Waktu Check-In dan Cut-Off Pendakian

Banyak pendaki memaksa naik meski sudah lewat jam pendakian. Hal ini membahayakan karena visibilitas semakin rendah dan tenaga tim SAR terbatas.

  • Mulai pendakian pagi/siang.
  • Hindari start malam hari sendirian.
  • Jangan memaksa jika waktu tidak cukup.

13. Disiplin Waktu Saat Berjalan

Etika mendaki juga mencakup menghargai waktu tim:

  • Jangan sering berhenti terlalu lama tanpa alasan jelas.
  • Komitmen pada jadwal bersama.
  • Jika berjalan lambat, mintalah barisan di belakang.

14. Gotong Royong: Budaya Pendaki Sejati

Jika ada pendaki lain yang kesusahan, tawarkan bantuan. Entah berupa air, obat-obatan, atau sekedar semangat.

  • Bantu mendirikan tenda
  • Beri info jalur jika ada pendaki tersesat
  • Bersatu saat kondisi buruk

15. Jangan Membawa Pulang Apa Pun dari Alam

Batu unik, bunga edelweis, atau kayu cantik — biarkan mereka di habitatnya. Alam bukan toko souvenir.

  • Foto saja, jangan dibawa pulang.
  • Ingat, merusak flora-fauna bisa dikenakan sanksi hukum.

16. Laporkan Hal Mencurigakan

Jika menemukan sampah ilegal besar, tanda-tanda kebakaran, atau hewan mati karena perburuan, segera laporkan ke petugas basecamp.

17. Pahami dan Hormati Cuaca Gunung

Cuaca di gunung bisa berubah sangat cepat—dari cerah ke badai dalam hitungan jam. Jika cuaca memburuk: turunlah.

Etika pendaki bukan soal ego mencapai puncak, tetapi kebijaksanaan untuk tahu kapan berhenti.

Mountain Manners adalah Ciri Pendaki Berkelas

Semakin tinggi ilmu, semakin tinggi etika. Pendaki yang kuat bukan hanya kuat kaki, tetapi juga kuat karakter dan rasa hormat. Dengan menerapkan etika dan aturan mendaki (mountain manners), kamu ikut menjaga kelestarian gunung dan membuat pengalaman mendaki lebih nyaman bagi semua orang.

Kesimpulan

Mendaki gunung bukan ajang adu gaya. Ini adalah perjalanan menyatu dengan alam, melatih kesabaran, empati, dan tanggung jawab. Menjalankan mountain manners berarti menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Jadi, kalau kamu ingin disebut pendaki sejati, mulailah bukan dari perlengkapan mahal, tapi dari etika dan aturan mendaki yang kamu terapkan setiap melangkahkan kaki ke gunung.

FAQ – Etika & Aturan Mendaki (Mountain Manners)

Q: Apa konsekuensi jika melanggar aturan mendaki?
A: Bisa dikenai sanksi administratif, denda, blacklist dari basecamp, atau fatalnya mengalami kecelakaan karena melanggar SOP keselamatan.

Q: Apakah speaker dilarang dibawa saat mendaki?
A: Tidak dilarang, tapi sangat tidak disarankan. Gunakan headset agar tidak mengganggu pendaki lain.

Q: Apakah boleh membawa binatang peliharaan saat mendaki?
A: Sebagian besar jalur pendakian tidak memperbolehkan, karena bisa mengganggu satwa liar di habitat gunung.

Q: Apakah mendaki sendirian termasuk pelanggaran etika?
A: Tidak dilarang, tapi kurang disarankan. Demi keselamatan, lebih baik bersama teman atau rombongan kecil.

 

Baca juga: Raja Ampat: Surga Dunia di Timur Indonesia yang Bikin Kamu Jatuh Cinta